Akuntansi & Keuangan

Pajak Lebih Hemat, Return Sudah Sepadan dengan Risiko? Membaca Investasi melalui CAPM

CAPM membantu menilai pengembalian yang dituntut pemegang saham. Penghematan pajak perlu dibaca bersama risiko investasi, pendanaan, dan arus kas.

Dua rencana investasi dibawa ke meja pemilik usaha. Salah satunya menawarkan penghematan pajak lebih besar dan proyeksi keuntungan yang menarik. Pengelola sudah menghitung biaya operasional. Namun, penjualan dalam rencana tersebut sangat bergantung pada kondisi ekonomi, dan sebagian modal akan berasal dari utang.

Pemilik usaha ingin mengetahui apakah hasil yang diperkirakan cukup untuk menanggung risiko yang ia ambil. Persentase penghematan pajak belum menjawab pertanyaan itu.

Di sinilah analisis biaya modal diperlukan. TouTax Associates dapat menghitung estimasi biaya ekuitas menggunakan Capital Asset Pricing Model atau CAPM, kemudian menghubungkannya dengan proyeksi arus kas setelah pajak dan struktur pendanaan. Tujuannya agar pemilik usaha mempunyai dasar untuk menilai kelayakan investasi, dengan asumsi yang dapat diperiksa.

Modal pemilik punya tuntutan pengembalian

Ketika perusahaan memakai uang pemegang saham, tidak ada tagihan bunga bulanan seperti pada pinjaman bank. Pemegang saham tetap menanggung risiko kehilangan modal dan melepas kesempatan menanamkan uang pada pilihan lain.

CAPM digunakan untuk mengestimasi tingkat pengembalian yang dituntut investor atas risiko sistematis, yaitu risiko yang berkaitan dengan pergerakan pasar dan tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Perhitungannya menggunakan tingkat bebas risiko, beta, dan premi risiko pasar. Beta menggambarkan sensitivitas pengembalian investasi terhadap pengembalian pasar.[1]

Hasil perhitungan itu dikenal sebagai biaya ekuitas. Angkanya merupakan estimasi tingkat pengembalian yang disyaratkan, bukan keuntungan yang dijamin akan diterima.

Bagi pemilik usaha, implikasinya cukup dekat dengan keputusan sehari-hari. Investasi yang diproyeksikan menghasilkan laba masih perlu dinilai terhadap modal yang ditanamkan, waktu penerimaan hasil, dan risiko usahanya. Persentase laba akuntansi saja belum cukup untuk penilaian tersebut.

Penghematan pajak perlu masuk ke proyeksi yang tepat

Pajak memengaruhi jumlah kas yang tersedia bagi perusahaan dan pemegang saham. Perlakuan biaya, penyusutan, serta pendanaan dapat mengubah hasil setelah pajak. Manfaatnya perlu dihitung sesuai ketentuan dan keadaan perusahaan.

Dalam penghitungan PPh berbasis penghasilan kena pajak, biaya yang memenuhi ketentuan dapat mengurangi penghasilan bruto. Pengeluaran untuk memperoleh aset berwujud dengan masa manfaat lebih dari satu tahun pada umumnya dibebankan melalui penyusutan.[2][3]

Perusahaan bisa mengeluarkan kas untuk membeli aset sekarang, sementara pengurang fiskalnya berlangsung dalam beberapa tahun. Penghematan pajak juga mungkin belum terpakai pada periode ketika perusahaan belum memiliki laba kena pajak. Jumlah dan waktu manfaat tersebut perlu tercermin dalam proyeksi kas.

CAPM tidak menghitung besarnya pajak. Analis menggunakannya untuk mengestimasi biaya ekuitas, sementara perlakuan pajak diperiksa dalam penyusunan arus kas. Keduanya dipertemukan ketika menilai nilai investasi bagi pemegang saham.

Angka yang menarik perlu dibandingkan dengan risiko

Sebagai ilustrasi sederhana, dua investasi seluruhnya didanai ekuitas dan masing-masing memerlukan modal Rp1 miliar selama satu tahun. Modal diasumsikan kembali utuh pada akhir tahun. Setelah seluruh pajak dan biaya, keuntungan kas yang diperkirakan masing-masing sebesar Rp110 juta dan Rp130 juta.

Keduanya menghasilkan pengembalian 11% dan 13%. Jika estimasi biaya ekuitas yang sesuai untuk masing-masing investasi adalah 12%, pilihan pertama berada di bawah tingkat pengembalian yang disyaratkan. Pilihan kedua berada di atasnya.

Tetapi jika risiko sistematis pilihan kedua lebih tinggi dan biaya ekuitasnya menjadi 15%, proyeksi pengembalian 13% juga berada di bawah tingkat yang disyaratkan. Perbandingan berubah setelah risiko diperhitungkan.

Seluruh angka tersebut adalah asumsi ilustratif, bukan data pasar atau hasil penilaian klien. Investasi nyata biasanya memiliki arus kas beberapa tahun dan nilai akhir yang tidak pasti, sehingga penilaiannya memerlukan proyeksi serta analisis sensitivitas yang lebih lengkap.

Ketepatan input menentukan kegunaan CAPM

Menghitung CAPM memerlukan pertimbangan atas sumber data dan kesesuaian asumsi. Mata uang tingkat bebas risiko perlu konsisten dengan arus kas yang dinilai. Beta harus sesuai karakter kegiatan usaha dan struktur pendanaan. Untuk perusahaan tertutup, analis dapat menggunakan perusahaan pembanding dengan penyesuaian yang diperlukan.[4]

TouTax dapat menyusun estimasi biaya ekuitas tersebut dan menggunakannya dalam penelaahan investasi. Jika pendanaan mencakup utang, analisis dapat dilanjutkan ke biaya modal rata-rata tertimbang atau WACC, dengan memperhitungkan biaya utang dan manfaat pajak bunga yang memang dapat digunakan.[4]

Risiko sengketa pajak perlu diperiksa tersendiri. Beta CAPM tidak otomatis mencakup kemungkinan koreksi pajak pada satu perusahaan. Perkiraan pembayaran tambahan, biaya penanganan, dan waktunya dapat dianalisis melalui skenario arus kas. Analis juga perlu menjaga agar risiko yang sama tidak dihitung dua kali dalam proyeksi dan tingkat diskonto.

Pemilik usaha akhirnya perlu melihat hasil setelah pajak yang sepadan dengan risiko, disertai kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan kas. Perhitungan CAPM membantu penilaian itu sepanjang inputnya sesuai dan batas modelnya dipahami.

Referensi

  1. Aswath Damodaran, NYU Stern, Valuation: materi kuliah Spring 2025, bagian biaya ekuitas dan CAPM. Diakses 6 Oktober 2026.
  2. Direktorat Jenderal Pajak, Biaya yang Diakui sebagai Pengurang Penghasilan Bruto, penjelasan Pasal 6 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Diakses 6 Oktober 2026.
  3. Direktorat Jenderal Pajak, PMK 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud. Diakses 6 Oktober 2026.
  4. Aswath Damodaran, NYU Stern, The Cost of Capital, pembahasan estimasi biaya ekuitas, konsistensi mata uang, perusahaan pembanding, biaya utang, dan manfaat pajak. Diakses 6 Oktober 2026.

Catatan editorial: Artikel ini disusun berdasarkan sumber yang ditelaah sampai 6 Oktober 2026. Ilustrasi menggunakan asumsi sederhana dan tidak menggambarkan kondisi pasar atau klien tertentu. Rujukan keuangan menjelaskan konsep analisis; perlakuan pajak mengikuti ketentuan Indonesia sesuai keadaan transaksi. Materi ini bersifat informasi umum dan bukan nasihat investasi, hukum, atau perpajakan untuk keadaan tertentu.

Materi ini disusun untuk tujuan informasi umum dan tidak merupakan nasihat profesional untuk fakta atau keadaan tertentu. Pembaca sebaiknya memperoleh nasihat yang sesuai sebelum mengambil tindakan berdasarkan materi ini.